Kapitan Leasa : Pahlawan Terlupakan dari Tanah Maluku

Ilustrasi: Kapitan Leasa memimpin pertempuran melawan penjajah 
                      


Biodata Singkat Kapitan Leasa

Nama lengkap: Kapitan Leasa

Tempat asal: Pulau Seram, Maluku Tengah

Tahun lahir: Diperkirakan awal abad ke-17

Tahun wafat: Akhir abad ke-17 (perkiraan)


Gelar: "Kapitan" (gelar adat untuk pemimpin perang)


Status khusus: Diangkat sebagai anak angkat oleh Kapitan Angkotta dan keluarga Latumeten dari Latuhalat

Keturunan: Masih tinggal di Negeri Latuhalat, Ambon hingga saat ini mereka mengunakan marga/fam leasa sebagai simbol identitas untuk Menunjukkan status sosial atau kedudukan dalam masyarakat  



Pendahuluan

Kepulauan Maluku, yang dikenal sebagai "Kepulauan Rempah", memiliki sejarah panjang dan kaya akan perjuangan rakyatnya melawan penjajahan asing. Sejak kedatangan Portugis dan kemudian VOC Belanda, masyarakat Maluku mengalami berbagai bentuk penindasan, baik secara ekonomi, budaya, maupun politik. Namun, sejarah juga mencatat tokoh-tokoh lokal yang bangkit melawan ketidakadilan itu. Salah satu di antaranya adalah Kapitan Leasa, seorang pemimpin perang yang gagah berani dari Pulau Seram.



Dampak dan Warisan

Kapitan Leasa bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga simbol keberanian, ketahanan, dan solidaritas rakyat Maluku. Meskipun namanya jarang disebut dalam sejarah nasional, masyarakat lokal tetap mengenangnya dengan penuh hormat. Di Negeri Latuhalat, Kota Ambon—tempat ia diangkat sebagai anak angkat—nama Kapitan Leasa masih disebut dalam upacara adat dan cerita lisan sebagai sosok pelindung dan pahlawan sejati.

Keturunannya masih menetap di Latuhalat hingga hari ini. Mereka mewarisi semangat juang dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh Kapitan Leasa: keberanian, keadilan, dan cinta tanah air. Beberapa dari mereka menjadi tokoh adat, pelaku budaya, dan pejuang pelestarian sejarah Maluku.



Latar Belakang Kapitan Leasa

Kapitan Leasa lahir di Pulau Seram, sebuah pulau besar yang menjadi jantung budaya dan spiritual masyarakat Maluku Tengah. Dalam struktur sosial adat, ia menyandang gelar "Kapitan", gelar yang diberikan kepada pemimpin perang atau kepala pertahanan kampung.

Di masa mudanya, ia tumbuh di tengah tekanan kolonial Belanda yang kala itu mendominasi perdagangan dan kehidupan masyarakat Maluku melalui monopoli VOC. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dalam strategi perang, disegani oleh kawan dan lawan, dan memiliki jiwa kepemimpinan alami.




Perjuangan Melawan Penjajahan

Perjuangan Kapitan Leasa melawan penjajahan Belanda terjadi dalam beberapa fase penting:


1. Perang Hoamual (±1639–1646)

Perang besar ini dipimpin oleh Raja Luhu dari wilayah Hoamual, Pulau Seram. Kapitan Leasa adalah salah satu kapitan pendukung utama yang memimpin pasukan dari Seram Timur dan Leitimor.

Sebab: Penindasan VOC, kerja paksa, dan monopoli rempah

Karakter perang: Koalisi kerajaan lokal vs VOC

Akhir: Perang kalah, Raja Luhu gugur, namun Leasa selamat dan melanjutkan perjuangan bawah tanah


2. Perlawanan Gerilya di Seram Timur (±1646–1649)

Setelah kekalahan di Hoamual, Leasa memimpin sekelompok kecil rakyat dalam strategi gerilya di pedalaman dan pesisir Seram Timur.

Aksi: Serangan mendadak ke pos Belanda, sabotase suplai, pemulihan wilayah adat

Hasil: Memperlemah kontrol VOC di beberapa zona hutan dan pesisir


3. Migrasi dan Perlawanan di Ambon Barat sekitar tahun (±1650

Karena dikejar VOC, Leasa melarikan diri ke semenanjung Nusaniwe. Di sana, ia diangkat sebagai anak angkat oleh Kapitan Angkotta dan keluarga Latumeten di Latuhalat.

Makna adopsi: Solidaritas antar negeri Maluku, pengakuan kehormatan

Peran baru: Strateg, penasehat perang rakyat, dan penghubung antar wilayah di Leitimor dan Ambon Barat


Kesimpulan 

Kapitan Leasa merupakan tokoh penting dalam sejarah Maluku yang patut dihormati dan dikenal lebih luas. Perjuangannya melawan penjajahan Belanda menunjukkan semangat juang dan nilai-nilai luhur yang masih relevan hingga saat ini.

 Namun, perjuangannya masih belum banyak dikenal secara nasional, menunjukkan adanya kesenjangan dalam pengakuan sejarah nasional terhadap pahlawan-pahlawan lokal. Oleh karena itu, perlu upaya lebih lanjut untuk mengangkat nama-nama seperti Kapitan Leasa sebagai bagian dari sejarah bangsa yang lebih inklusif dan menyeluruh.


Pendapat Pribadi Penulis

Penulis blog Sejarah Pemula

Menurut saya, Kapitan leasa adalah sosok yang patut dihormati sebagai tokoh pejuang. 

Namun, saya tidak bisa sepenuhnya memastikan status kepahlawanannya karena minimnya dokumen atau bukti sejarah tertulis yang memadai. 

Kisahnya masih banyak bersandar pada ingatan kolektif dan tradisi lisan. Oleh karena itu, saya berharap para sejarawan dan peneliti dapat menelusuri lebih jauh agar tokoh seperti leasa mendapat tempat yang layak dalam sejarah bangsa.


Penutup

Kapitan Leasa adalah gambaran nyata tentang bagaimana sejarah besar bangsa ini juga dibentuk oleh tokoh-tokoh dari desa dan gunung, dari hutan dan laut. Ia bukan hanya pejuang, tapi juga jembatan antara budaya, kehormatan, dan harapan. Meskipun belum diakui secara nasional sebagai pahlawan, bagi masyarakat Maluku—khususnya Latuhalat dan Seram—ia tetap hidup dalam ingatan dan hati.

Sudah saatnya nama-nama seperti Kapitan Leasa dimasukkan dalam buku-buku sejarah kita. Bukan hanya sebagai simbol perlawanan, tapi juga sebagai warisan nilai yang relevan untuk generasi masa kini.

#KapitanLeasa #Pahlawanmaluku #Latuhalat


Tentang penulis 

Ditulis oleh Dave Leasa


Referensi:

1. Bartels, Dieter. (1994). Guarding the Invisible Mountain: Intervillage Alliances, Religious Syncretism and Ethnic Identity among Ambonese Christians and Moslems in the Moluccas. Cornell University.

2. Knaap, Gerrit. (2004). Kawan dan Lawan: Orang Maluku dan VOC 1600–1800. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

3. Tetelepta, P.A. (1982). Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Penjajahan Belanda. Ambon: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku.

4. Wawancara Lisan dengan Tetua Adat Negeri Latuhalat, Ambon (2023).

5. Dokumentasi Lisan dan Arsip Keluarga Latumeten – Latuhalat (tidak diterbitkan).

Komentar

  1. Bayangin deh, masih muda udah mikirin rakyat, ngatur strategi perang, dan ngelawan penjajah. Gila, jiwa kepemimpinannya mantap banget!

    BalasHapus
  2. Dia tuh bukti kalau perubahan itu bisa dimulai dari satu orang yang punya keberanian. Dari satu jadi banyak, akhirnya jadi gerakan besar!

    BalasHapus
  3. Artikel nya bagus, nambah wawasan

    BalasHapus
  4. Hello semua, Terima kasih sudah membaca artikel ini

    BalasHapus
  5. Artikel nya menarik untuk di baca, semangat

    BalasHapus
  6. Terima kasih sudah membaca! Bagikan pendapat mu tentang topik ini

    BalasHapus
  7. Keren menambah wawasan

    BalasHapus
  8. Keren yaa,, karena ketidak tahuan ini kita gak tau mengenai tokoh diatas.. tapi setelah baca dan dikenalkan artikel ini perjuangannya emang harus dikenang dan patut dihargai sebagai pahlawan

    BalasHapus
  9. Mantap jadi lebih tau kisah pahlawan yang terlupakan

    BalasHapus
  10. Seru banget ceritanya hampir gw TDK tau tentang kisah pahlawan ini, tingkatkan lagi

    BalasHapus
  11. Ceritanya menarik dan menginspirasi

    BalasHapus

Posting Komentar