Kapitan Ulupaha : Pejuang Soya yang Terlupakan dalam perang Hoamoal
Biodata Singkat Kapitan Ulupaha
Nama lengkap: Kapitan Ulupaha
Tempat asal: Negeri Soya, Pulau Ambon
Tahun lahir: Sekitar 1605
Tahun wafat: Sekitar 1650
Usia saat wafat: Sekitar 45 tahun
Gelar: Kapitan (pemimpin perang adat Maluku)
Wilayah perjuangan: Pegunungan Leitimur, Soya, dan sekitar Ambon Selatan
- Konflik utama: Perang Hoamoal (1639–1646)
- Peran: Pemimpin lokal dari Leitimur yang bergabung dalam koalisi besar melawan VOC
- Strategi: Gerilya pegunungan, pertahanan negeri, dan logistik perlawanan
Warisan: Dikenang sebagai pahlawan rakyat Soya dan Leitimur, pejuang tanah adat
Pendahuluan
Dalam sejarah panjang perjuangan rakyat Maluku melawan penjajahan, terdapat banyak nama besar yang sempat terlupakan. Salah satunya adalah Kapitan Ulupaha, seorang pejuang dari Negeri Soya, di lereng pegunungan Sirimau, Pulau Ambon. Keberaniannya dalam menghadapi kekuasaan VOC menjadikannya simbol keteguhan rakyat Maluku dalam mempertahankan tanah dan martabat mereka.
Latar Belakang
Kapitan Ulupaha hidup pada masa yang sama dengan Perang Hoamoal (1639–1646), sebuah perlawanan besar rakyat Hitu, Seram, dan wilayah sekitarnya terhadap monopoli dan kekejaman VOC. Negeri Soya, yang terletak di dataran tinggi Ambon, merupakan titik penting pertahanan dan tempat lahirnya banyak pemimpin lokal. Dari tempat ini, Ulupaha muncul sebagai tokoh strategis yang membantu pergerakan perlawanan dari wilayah daratan Ambon.
Peran dalam Perang
Kapitan Ulupaha dikenal sebagai pemimpin pasukan yang piawai mengatur strategi perang gerilya di daerah pegunungan. Ia bekerja sama dengan tokoh-tokoh besar seperti Kapitan Kakialy dan Kapitan Leasa. Ulupaha memanfaatkan pengetahuannya terhadap medan dan menggerakkan masyarakat Negeri Soya untuk memberikan perlawanan sengit terhadap VOC yang ingin memperluas kekuasaannya di Ambon dan sekitarnya.
Dalam beberapa sumber lisan masyarakat Soya, Ulupaha juga dikenal sebagai pemimpin adat yang disegani, dan karismanya menjadikan ia sebagai penggerak semangat juang generasi muda.
Warisan Sejarah
Meski tidak banyak disebut dalam buku sejarah nasional, nama Kapitan Ulupaha masih diingat dalam tradisi lisan masyarakat Soya. Kisahnya diceritakan dari generasi ke generasi, sebagai lambang keberanian dan cinta tanah air. Ia bukan hanya seorang pejuang, tapi juga tokoh budaya yang menjaga identitas Maluku di tengah tekanan kolonialisme.
Berikut daftar perang dan konflik utama yang diikuti Kapitan Ulupaha, disusun secara kronologis dan berdasarkan konteks sejarah perjuangan rakyat Maluku abad ke-17:
Daftar Perang yang Diikuti Kapitan Ulupaha
1. Perang Hoamoal (1639–1646)
Peran: Kapitan Ulupaha bergabung dalam koalisi besar pimpinan Raja Luhu dari Seram Barat. Ia memimpin pasukan dari wilayah Leitimur (khususnya Negeri Soya).
Aksi: Pertempuran terhadap benteng-benteng VOC, blokade jalur perdagangan rempah, dan penguasaan jalur pegunungan strategis.
Hasil: Perang berhasil mengguncang kekuatan VOC, namun pada akhirnya koalisi kalah setelah beberapa tahun pertempuran sengit.
![]() |
2. Perlawanan Lokal Leitimur (1646–1650)
Peran: Setelah pasukan utama Raja Luhu dikalahkan, Kapitan Ulupaha memimpin sisa-sisa pasukan di Leitimur dan Soya.
Strategi: Gerilya di pegunungan, perlindungan negeri, dan sabotase terhadap aktivitas VOC.
Hasil: Mempertahankan eksistensi Negeri Soya dari pendudukan penuh VOC, meskipun wilayah sekitar jatuh ke tangan Belanda.
Kesimpulan
Kapitan Ulupaha adalah bukti bahwa perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya datang dari tokoh besar yang tercatat dalam sejarah nasional. Sayangnya, kisah perjuangannya di Negeri Soya nyaris terlupakan akibat dominasi narasi sejarah kolonial dan minimnya pencatatan lokal. Sudah waktunya sejarah kita memberi ruang bagi pahlawan seperti Ulupaha, agar generasi mendatang tahu bahwa keberanian juga tumbuh dari tanah mereka sendiri.
Penutup
Kapitan Ulupaha layak diangkat sebagai salah satu pahlawan lokal Maluku yang jasanya belum banyak dikenal. Melalui penelusuran sejarah dan penggalian tradisi lokal, kita dapat mengangkat kembali nama-nama seperti Ulupaha ke permukaan sejarah bangsa. Mengingat dan menghargai perjuangan mereka adalah bagian dari merawat jati diri kita sebagai anak bangsa.
#Kapitanulupaha #siapaKapitanUlupaha #PerangHoamual
Referensi:
Manusela, A. (2021). Perlawanan Rakyat Maluku Abad ke-17. Ambon: Lembaga Sejarah Maluku.
Tradisi Lisan Masyarakat Negeri Soya, wawancara informal (2022).


Komentar
Posting Komentar