Hasan Basry: Sang Komandan Gerilya Kalimantan Selatan

Potret Hasan Basry, Pahlawan Nasional dari Kalimantan Selatan. Gambar ini diambil dari dokumentasi sejarah perjuangan nasional. Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) / Koleksi Publik.


Biodata Singkat

Nama lengkap: Hasan Basry

Lahir: 17 Juni 1923, Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan

Wafat: 15 Juli 1984, Jakarta

Gelar: Pahlawan Nasional Indonesia (dianugerahkan pada 10 November 2001)


Hasan Basry menerima rangkaian bunga beberapa saat sesudah pertemuan dengan misi militer Belanda dan utusan PBB (UNCI) di Munggu Raya, Kandangan 2 September 1949


Awal Kehidupan

Hasan Basry lahir dari keluarga sederhana di Kandangan, Kalimantan Selatan. Sejak kecil, ia dididik dengan nilai-nilai keagamaan dan nasionalisme. Pendidikan formal ditempuhnya di sekolah rakyat dan kemudian di Madrasah Ar-Rasyidiyah di Amuntai.


Semangat nasionalisme Hasan Basry tumbuh subur sejak remaja, terutama setelah ia menyaksikan ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat Kalimantan.


Pada masa pendudukan Jepang, Hasan Basry semakin aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan. Ia bergabung dengan organisasi pemuda dan mulai membentuk jaringan untuk melawan kolonialisme.


Perjuangan dan Kiprah Militer

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Hasan Basry segera bergerak untuk mengamankan Kalimantan Selatan dari kekuasaan Belanda yang berusaha kembali. Ia membentuk dan memimpin Laskar Syaifullah, sebuah pasukan pejuang rakyat berbasis agama, yang kemudian bertransformasi menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).


Dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945–1949), Hasan Basry menjadi sosok sentral perlawanan di Kalimantan Selatan. Ia mengadopsi taktik perang gerilya, menyerang pos-pos Belanda di pedalaman, dan menjaga semangat rakyat tetap membara.


Pada tahun 1948, Hasan Basry diangkat sebagai Komandan Divisi ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan (Angkatan Laut Republik Indonesia). Jabatan ini memperkuat legitimasi perjuangannya dalam mempertahankan Kalimantan Selatan sebagai bagian sah dari Republik Indonesia.


Beberapa aksi penting Hasan Basry:

  • Gerilya di Pegunungan Meratus dan Hulu Sungai
  • Penolakan terhadap Persetujuan Linggarjati dan Renville, karena mengabaikan Kalimantan sebagai bagian Republik
  • Pemberontakan terhadap pembentukan Negara Kalimantan bentukan Belanda (1949)

Ia berani mendeklarasikan bahwa Kalimantan Selatan tetap setia kepada Republik Indonesia, bahkan saat Belanda dan boneka-bonekanya mencoba mendirikan negara-negara federal.


Masa Setelah Kemerdekaan

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 1949, Hasan Basry melanjutkan kiprahnya di dunia militer dan pemerintahan. Ia pernah menjadi anggota Konstituante, kemudian aktif di berbagai organisasi Islam dan sosial.


Pada tahun 1960-an, Hasan Basry sempat menjabat sebagai Panglima Tentara Wilayah Kalimantan. Ia juga dikenal kritis terhadap ketidakadilan dan penyimpangan dalam pemerintahan Orde Lama.


Di masa akhir hayatnya, ia tetap aktif dalam membina semangat nasionalisme dan Islamisme moderat di Kalimantan Selatan.


Wafat dan Penghormatan

Hasan Basry wafat pada 15 Juli 1984 di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan upacara militer sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.


Sebagai penghargaan atas perjuangan dan pengabdiannya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Hasan Basry pada 10 November 2001.


Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan, universitas, dan berbagai lembaga di Kalimantan Selatan, termasuk Universitas Lambung Mangkurat yang pernah membangun gedung atas namanya.



Referensi:


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. (1985). Hasan Basry: Pejuang Kemerdekaan di Kalimantan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Tim Redaksi Ensiklopedi. (2004). Ensiklopedi Pahlawan Nasional Indonesia. Jakarta: Setneg RI.

Subarkah, S. (1993). Pahlawan-Pahlawan Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press.

Ensiklopedia Tokoh Indonesia. (2008). Brigjen. (Anm.) Hasan Basry. Jakarta: Pusat Data dan Analisa Tempo.

Komentar

Postingan Populer

Kapitan Leasa : Pahlawan Terlupakan dari Tanah Maluku