Ali Anyang: Pahlawan Mandor kalimantan barat

Potret Ali Anyang, Gambar ini berdasarkan dokumentasi perjuangan rakyat Kalimantan dalam melawan pendudukan Jepang. Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) / Koleksi Publik.



Biodata Singkat

  • Nama lengkap: Ali Anyang
  • Lahir: 20 oktober 1920, Kalimantan Barat
  • Wafat: 7 april 1970, Mandor, Kalimantan Barat
  • Gelar: Bintang Mahaputera Nararya (13 agustus 1999) 



Awal Kehidupan

Ali Anyang lahir di daerah Kalimantan Barat, tumbuh dalam lingkungan masyarakat Dayak yang kental dengan semangat kemandirian dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Sejak muda, Ali Anyang dikenal sebagai sosok yang berani dan menentang penjajahan serta penindasan yang dilakukan oleh kolonial Belanda dan Jepang.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Ali Anyang aktif dalam komunitas Dayak dan terlibat dalam perjuangan rakyat untuk mempertahankan hak-hak mereka atas tanah dan kehidupan yang bebas dari kolonialisme.



Perjuangan Melawan Penjajah

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), Ali Anyang menjadi salah satu tokoh penting dalam Peristiwa Mandor, yaitu gerakan perlawanan rakyat Kalimantan Barat terhadap kekejaman dan eksploitasi Jepang.

Pemerintah militer Jepang memperlakukan rakyat lokal dengan sangat kejam, memaksakan kerja paksa, merampas hasil bumi, serta melakukan penangkapan dan pembantaian terhadap para tokoh adat, ulama, cendekiawan, dan pemimpin lokal. Dalam konteks inilah, Ali Anyang bangkit mengobarkan semangat rakyat untuk melawan.


Sebagai pemimpin gerilya lokal, Ali Anyang:

  •  Mengorganisasi perlawanan rakyat Dayak dan Melayu.
  •  Memimpin serangan terhadap pos-pos Jepang di sekitar Mandor dan wilayah pedalaman.
  • Menolak tunduk terhadap upaya Jepang untuk memaksakan kerja paksa dan mobilisasi massal.

dalam Perjuangan nya

Ali Anyang ditangkap setelah memimpin penyerbuan ke markas Belanda di Pontianak pada 12 November 1945. Namun, penahanannya di penjara Sei Jawi, Pontianak, tidak berlangsung lama. Ia dibebaskan beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Februari 1946. 

Setelah dibebaskan, Ali Anyang diperintahkan untuk melanjutkan perlawanan di daerah-daerah lain karena situasi di Pontianak semakin sulit untuk bergerak.


Referensi:


Departemen Sosial Republik Indonesia. (2003). Direktori Pahlawan Nasional. Jakarta: Departemen Sosial RI.

Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden. (2018). Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2018. Jakarta.

Sutarno, J. (2019). Tragedi Mandor Berdarah: Sejarah Kelam Kalimantan Barat. Pontianak: Dinas Sosial Kalimantan Barat.

Tempo. (2018). "Ali Anyang, Pejuang Tragedi Mandor Diganjar Gelar Pahlawan Nasional", dalam Majalah Tempo edisi November 2018.

Komentar

Postingan Populer

Kapitan Leasa : Pahlawan Terlupakan dari Tanah Maluku